James memang jarang bertemu denganku.. meski ia tahu kalau perasaan itu laksana angin di langit biru yang beradu-adu... terkadang pilu seringkali sendu
James memang tahu kalau aku menyayanginya... namun entah dia peduli atau terkadang pura-pura tak mengetahui sesuatu yang seakan terpatri di dahi...
James memang baru sekali memegang tanganku... saat akan menyebrang jalan pelan-pelan, kita seperti pasangan baru. padahal apa ia tau apapun yang diucapkan atau di tuliskannya layaknya prasasti di memoriku?
James dan aku memang jarang saling mengabari, sekali-sekali namun bukan berarti perasaan itu hilang walau terkatung ketakutan di hati nurani
James memang kaku, seperti seluruh dunia tahu itu... hanya sekilas memandang kemudian memunggungiku, entah kaku atau entah sengaja menghindariku
James tidak mencintaiku, -untuk itu aku tahu
namun James seakan pernah memberi harapan padaku
Ia ada saat ku berdoa malam itu
atau saat ini, saat ku berdoa sekali lagi karna aku sangat menyayanginya dan tak ingin disentuh oleh pria selain dia
James tahu aku merindu
James tahu aku selalu rindu
dan James tahu kalau aku akan dengan mudah memberi segalanya pada pria yang aku cinta
tapi James tidak pernah minta bercinta
tidak pernah membahas betapa sexy aku dalam balutan lingerie ungu
atau bersenda gurau tentang nafsu
James selalu menghargaiku
tidak pernah mengambil kesempatan dari semua itu
James memang tak pernah mencintaiku,
namun perlakuannya selalu menghangatkanku.
Flying My Guilt over a Quilt
Jajang Rahmat Cena
Rabu, 07 September 2011
Jumat, 02 September 2011
Rindu 2
Jamie...
kerinduan seakan mengubah malam penuh cahaya sejenak menjadi air mata
mengubah sekilau senja menjadi tawa atas khayal yang tak berujung bahagia...
Jamie...
terkadang juga kerinduan menjelma tangis, tiba-tiba mengucur saat kusudahi tidurku
lelap memimpikanmu, tersakiti mimpi tentangmu...
Jamie...
seringkali hujan bercerita tentang ketakutannya akan mendung yang tak kunjung pergi
seolah untukmu, mendung tak berarti apa-apa...
yang kurasa hanya air menggenang dipelupuk mata, terkadang tenang namun selalu kedukaan datang menghapus sukacita...
Jamie...
nun jauh disana matahari bermandi sinarnya
mengingatkanku akan rasa yang sebenarnya tak nyata...
rembulan, bintang, segala isi angkasa semua sirna karna yang kutahu hanya air dipelupuk mata yang tiap kuberkedip dapat kusaksikan bulir-demi-bulirnya
Jamie...
pipiku kini telah menjelma serupa telaga...
dan kau lah bendungan yang meluap menyebabkannya
kerinduan seakan mengubah malam penuh cahaya sejenak menjadi air mata
mengubah sekilau senja menjadi tawa atas khayal yang tak berujung bahagia...
Jamie...
terkadang juga kerinduan menjelma tangis, tiba-tiba mengucur saat kusudahi tidurku
lelap memimpikanmu, tersakiti mimpi tentangmu...
Jamie...
seringkali hujan bercerita tentang ketakutannya akan mendung yang tak kunjung pergi
seolah untukmu, mendung tak berarti apa-apa...
yang kurasa hanya air menggenang dipelupuk mata, terkadang tenang namun selalu kedukaan datang menghapus sukacita...
Jamie...
nun jauh disana matahari bermandi sinarnya
mengingatkanku akan rasa yang sebenarnya tak nyata...
rembulan, bintang, segala isi angkasa semua sirna karna yang kutahu hanya air dipelupuk mata yang tiap kuberkedip dapat kusaksikan bulir-demi-bulirnya
Jamie...
pipiku kini telah menjelma serupa telaga...
dan kau lah bendungan yang meluap menyebabkannya
Minggu, 24 Juli 2011
Rindu
Jamie... hujan diluar seakan tak mau berhenti jika kau tak kembali
dan kalaupun kau kembali, adakah kemungkinan aku kau cintai?
Jamie... seumur hidupku aku belum pernah setakut ini
takut apabila kau takkan kumiliki
takut bila ragaku akan termiliki oleh lelaki yang ternyata bukan Jamie.
Jamie... bila berharap padamu sama saja menggantung leherku, maka berapa wanita yang sudah kau gantung lehernya sampai pucat-pasi membiru?
Jamie... dipantai kau memandang senja, aku disini memeram luka
akankah bila kau pulang nanti aku tetap ada
bila aku ada, apakah kita akan bersama atas kemungkinan-kemungkinan fana yang sebenarnya tak ingin kurasa?
Jamie... aku mencintaimu
dan aku harap engkau tau
seandainya kau tau, akankah ada bedanya untukku?
Jamie... hujan kini telah berhenti...
namun tidak dengan rasa di hati.
dan kalaupun kau kembali, adakah kemungkinan aku kau cintai?
Jamie... seumur hidupku aku belum pernah setakut ini
takut apabila kau takkan kumiliki
takut bila ragaku akan termiliki oleh lelaki yang ternyata bukan Jamie.
Jamie... bila berharap padamu sama saja menggantung leherku, maka berapa wanita yang sudah kau gantung lehernya sampai pucat-pasi membiru?
Jamie... dipantai kau memandang senja, aku disini memeram luka
akankah bila kau pulang nanti aku tetap ada
bila aku ada, apakah kita akan bersama atas kemungkinan-kemungkinan fana yang sebenarnya tak ingin kurasa?
Jamie... aku mencintaimu
dan aku harap engkau tau
seandainya kau tau, akankah ada bedanya untukku?
Jamie... hujan kini telah berhenti...
namun tidak dengan rasa di hati.
Jumat, 29 April 2011
Bias
Buat Miratku, Ratuku!
Kubentuk dunia sendiri
Dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kecuplah aku terus, kecuplah
Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…
bait terakhir dari Sajak Putih.
-Chairil Anwar
menjadi bias dalam sajak singkatku...
Kepada rajaku, Faisalku!
Ku bangun sebuah angan semu
Dimana bunga-bunga ungu tumbuh kelabu
Tak kan kau temui langit yang bisu
Semua menghamba, menyambut dirimu.
Kubentuk dunia sendiri
Dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kecuplah aku terus, kecuplah
Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…
bait terakhir dari Sajak Putih.
-Chairil Anwar
menjadi bias dalam sajak singkatku...
Kepada rajaku, Faisalku!
Ku bangun sebuah angan semu
Dimana bunga-bunga ungu tumbuh kelabu
Tak kan kau temui langit yang bisu
Semua menghamba, menyambut dirimu.
Candu
Sebenarnya kisah biasa, Sinta mencintai Rama, Rama menolak Sinta. Seperti Rangga mendekati Cinta, Cinta sudah ada yang punya, namun Cinta datang pula untuk Rangga.
Biasa, tidak ada yang luar biasa. Hanya saja aku penyair, sementara hobimu berzikir... Dari situ baru terlihat, kalau kau dan aku jelas berbeda.
Kau ibarat tuak, memabukkan. Tertuang sempurna. Aku bagai wadah perak, luntur sedikit karna tuak. Tak ada satu bagianpun yang bisa dikaitkan tentang aku-kamu dan analogi-analogi sekitar kamu dan aku.
Yang ada hanya sedikit perasaan yang sulit ditahan. Setelah bertemu semakin keras menderu, sulit aku melupakanmu. Meski melewati seribu pulau, sulit aku menepis galau.
Yang tersesat dalam hutan gelap pekat kehidupan itu kamu atau aku?
Yang kehilangan itu rasamu atau rasaku?
Atau kita sama-sama tak kehilangan apa-apa, tak tersesat kemana-mana?
Mungkin itu cuma kita, mungkin itu tentang aku saja yang masih berputar-putar atau malah memutar-mutar perasaanku sendiri dalam roda pedati yang kau lecuti
Kepalsuan apa yang telah tertanam selama ini dalam hidupmu, teman-temanmu dan segala di sekitarmu?
Apa aku yang ternyata palsu? Tak bertuan-tak dipertuankan perasaanmu tak memiliki titik temu atas semua perasaanku.
Cinta. Itu hal teraneh yang sering kudengar dari realita.
Sekarang akankah kau campur-adukkan cinta dengan surga yang kau reka-reka sedemikian rupa agar mereka yang kira-kira mudah goyahnya kecemplung ke dalam sana?
Sayang! Aku disini, siap untuk beretorika atas semua etika yang sudah kau lupa
Sayang! Kau yang gila atau aku yang mengada-ngada?
Aku manusia, sementara kau apa?
(Jawaban atas segala pertanyaan yang menguap ke permukaan, hanya kamu yang bisa jawab. Kamu dan hatimu, separuh palsu, separuh hantu).
Biasa, tidak ada yang luar biasa. Hanya saja aku penyair, sementara hobimu berzikir... Dari situ baru terlihat, kalau kau dan aku jelas berbeda.
Kau ibarat tuak, memabukkan. Tertuang sempurna. Aku bagai wadah perak, luntur sedikit karna tuak. Tak ada satu bagianpun yang bisa dikaitkan tentang aku-kamu dan analogi-analogi sekitar kamu dan aku.
Yang ada hanya sedikit perasaan yang sulit ditahan. Setelah bertemu semakin keras menderu, sulit aku melupakanmu. Meski melewati seribu pulau, sulit aku menepis galau.
Yang tersesat dalam hutan gelap pekat kehidupan itu kamu atau aku?
Yang kehilangan itu rasamu atau rasaku?
Atau kita sama-sama tak kehilangan apa-apa, tak tersesat kemana-mana?
Mungkin itu cuma kita, mungkin itu tentang aku saja yang masih berputar-putar atau malah memutar-mutar perasaanku sendiri dalam roda pedati yang kau lecuti
Kepalsuan apa yang telah tertanam selama ini dalam hidupmu, teman-temanmu dan segala di sekitarmu?
Apa aku yang ternyata palsu? Tak bertuan-tak dipertuankan perasaanmu tak memiliki titik temu atas semua perasaanku.
Cinta. Itu hal teraneh yang sering kudengar dari realita.
Sekarang akankah kau campur-adukkan cinta dengan surga yang kau reka-reka sedemikian rupa agar mereka yang kira-kira mudah goyahnya kecemplung ke dalam sana?
Sayang! Aku disini, siap untuk beretorika atas semua etika yang sudah kau lupa
Sayang! Kau yang gila atau aku yang mengada-ngada?
Aku manusia, sementara kau apa?
(Jawaban atas segala pertanyaan yang menguap ke permukaan, hanya kamu yang bisa jawab. Kamu dan hatimu, separuh palsu, separuh hantu).
sajak-sajak tentang sang raja
Fai, kau Tuhan dari segala sajak dan puisi, kau api dalam tugu tak berapi. Kau tangis dalam sepi, saksi segala sangsi!
terinspirasi dari:
apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti aku tugu tanpa api ~ WS Rendra
Aku hidup atas syair-syair, satir. Setidaknya kini bertuan setelah kamu, mampir.
Sayang, aku tak pernah benar-benar membencimu. Aku hanya malu mengakui bahwa aku masih, sangat, amat mencintaimu atas segala kesesatanmu.
Dari semua kasihmu, paling munafiklah aku. Berpaling dari hadapmu, dibelakang membuntutimu. Masih malu mengaku, padahal merindu.
Kita buat semua seperti yang kau minta! Kau api, aku airnya, kau raja, aku ratunya. Tapi kau Tuhan, jadi aku apa?
Mendoakanmu, tak putus di nadiku. Bukan agar kau mencintaiku, tapi agar kau damai dalam hatimu.
Mendoakanmu, adalah hal yang pertama kulakukan setelah udara mengisi paru-paru
Sayang. Cinta. Itu aku. Walau kau tak punya waktu untuk terus-menerus merindu.
Sayang, sekarang kerinduan-kerinduan itu punya persinggahan yang baru, kamu
Mencintaimu, hembusan nafas-nafas sesak dalam paru-paruku. Kau, satu. Untukku.
Sayang, sekarang... Izinkan aku pulang. Lama sudah aku berjuang. Aku menyerah. Boleh aku mengaku kalah?
Ada yang berbeda saat kita bertemu. Tuhan tau aku malu, Dia tak membiarkanmu bertatap muka denganku.
Dalam seribu kali benciku kekamu, sejuta kali cinta tersirat disitu. Aku menunggu sampai matahari berwarna ungu, hingga ku bisa jujur padamu
aku memBENCImu... aku BENar-benar menCIntaimu...
terinspirasi dari:
apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti aku tugu tanpa api ~ WS Rendra
Aku hidup atas syair-syair, satir. Setidaknya kini bertuan setelah kamu, mampir.
Sayang, aku tak pernah benar-benar membencimu. Aku hanya malu mengakui bahwa aku masih, sangat, amat mencintaimu atas segala kesesatanmu.
Dari semua kasihmu, paling munafiklah aku. Berpaling dari hadapmu, dibelakang membuntutimu. Masih malu mengaku, padahal merindu.
Kita buat semua seperti yang kau minta! Kau api, aku airnya, kau raja, aku ratunya. Tapi kau Tuhan, jadi aku apa?
Mendoakanmu, tak putus di nadiku. Bukan agar kau mencintaiku, tapi agar kau damai dalam hatimu.
Mendoakanmu, adalah hal yang pertama kulakukan setelah udara mengisi paru-paru
Sayang. Cinta. Itu aku. Walau kau tak punya waktu untuk terus-menerus merindu.
Sayang, sekarang kerinduan-kerinduan itu punya persinggahan yang baru, kamu
Mencintaimu, hembusan nafas-nafas sesak dalam paru-paruku. Kau, satu. Untukku.
Sayang, sekarang... Izinkan aku pulang. Lama sudah aku berjuang. Aku menyerah. Boleh aku mengaku kalah?
Ada yang berbeda saat kita bertemu. Tuhan tau aku malu, Dia tak membiarkanmu bertatap muka denganku.
Dalam seribu kali benciku kekamu, sejuta kali cinta tersirat disitu. Aku menunggu sampai matahari berwarna ungu, hingga ku bisa jujur padamu
aku memBENCImu... aku BENar-benar menCIntaimu...
Langgan:
Entri (Atom)
